Pages

Pengaruh globalisasi terhadap rasa nasionalisme di abad 21

oleh : Wongbanyumas

Perkembangan globalisasi

saat ini dunia mulai terintegrasi satu sama lainnya. Setiap negara seolah menjadi tanpa sekat dan tidak ada batasan ruang dan waktu. Kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi menjadi penyokong utama perubahan dunia. Dunia saat ini tengah memasuki era globalisasi. Istilah globalisasi sebenarnya sangat banyak dan masing-masing punya unsur tersendiri. Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985. Globalisasi dapat diartikan sebagai westernisasi atau modernisasi, yaitu merebaknya struktur modernitas barat yang menyangkut kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme, dan lain sebagainya yang cenderung merusak budaya lokal yang sudah ada sebelumnya. Proses globalisasi juga menghendaki adanya penyatuan dunia dalam satu sistem terpadu yang membentuk perkampungan global (global village).

Ketika dunia berusaha disatukan dalam sebuah tatanan integral muncul pertanyaan bagaimanakah pengaruh yang ditimbulkan oleh prosess globalisasi terhadap rasa nasionalisme kita? Karena pada dasarnya ketika muncul gagasan penyatuan dunia kedalam satu sistem integral yang tidak melihat pada batas teritorial tentu berpengaruh pada rasa nasionalisme. Nasionalisme sendiri diartikan sebagai faham kebangsaan, yaitu faham yang melahirkan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia. Bagaimana sikap seorang warganegara terhadap negaranya mencerminkan rasa nasionalisme seseorang.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi. Banyak perbedaan dalam masyarakat di Indonesia yang diakibatkan oleh topografi Indonesia yang berupa gugusan kepulauan. Akan tetapi bangsa Indonesia tetap eksis sampai dengan hari ini. Le desire d’etre ensemble (hasrat untuk bersatu). seperti kata Renan, merupakan unsur utama perekat persatuan bangsa Indonesia. Terdapat berbagai faktor yang dapat mendorong terbentuknya hasrat itu, mulai dan kesamaan bahasa, agama dan budaya, kesamaan sejarah atau pengalaman di masa lampau, sampai kepada keinginan untuk mencapai cita-cita bensama di masa yang akan datang.

Sebuah bangsa terbentuk akibat adanya kesamaan hasrat untuk bersatu. Paham negara Integralistik yang dicetuskan oleh Supomo merupakan salah satu upaya untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Rasa nasionalisme harus ditimbuhkan dalam setiap dada warganegara. Perbedaan yang sangat plural dan kaya di Indonesia dapat diatasi oleh masyarakat. Semangat itu didasarkan pada rasa pesatuan dan kesatuan, sebagaimana yang tercetus dalam semboyan negara “bhineka tunggal ika” dan falsafah negara yaitu pancasila. Maka dapat dikatakan nilai-nilai nasionalisme (faham tentang kebangsaan) itu bersumber dari sosio-kultural bangsa dan bumi Indonesia.

Bentuk-bentuk nasionalisme

1.Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik".

2.Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.

3.Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semula jadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme.

4.Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya.

5.Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis.

6.Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama.

Nasionalisme Indonesia adalah gabungan antara Nasionalisme etnis dengan Nasionalisme Budaya. Dimana rasa nasinalisme kita terbentuk dari perbedaan yang bersintesa menjadi sebuah hasrat persatuan sehingga membentuk bangsa Indonesia.

Tantangan di era globalisasi

Globalisasi diidentikkan dengan proses integrasi negara yang ada di dunia sehingga menjadi tanpa batas. Setiap peristiwa yang terjadi di suatu wilayah dapat diketahui secara cepat dan dapat menimbulkan efek dibagian dunia yang lain. Disini kita melihat bahwa nantinya dengan proses integrasi seperti ini dikhawatirkan rasa nasionalisme akan memudar. Karena nantinya eksistensi negara-bangsa juga akan mengalami kemunduran. Karena pada dasarnya negara sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa, semuanya dikembalikan kepada kekuatan dunia internasional. Pihak asing nantinya dapat mengintervensi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Semakin terbukanya arus informasi juga mempengaruhi pola pikir suatu bangsa. Masuknya budaya dan nilai asing turut merubah cara pandang anak bangsa. Semangat kebersamaan dan gotong royong telah digantikan dengan semangat individualisme. Ikatan negara bangsa sebagai hasil dari pergaulan antara kedaulatan negara mulai merenggang. Akibatnya kita lihat banyak konflik yang terangkat kepermukaan. Konflik yang muncul tersebut ternyata diakibatkan oleh masalah sepele. Belakangan ini juga muncul gerakan separatisme yang mengarah pada ancaman disintegrasi. Hal-hal seperti diakibatkan karena memudarnya semangat persatuan dan rasa nasionalisme. Tantangan seperti itu hanya bisa diatasi bila bangsa Indonesia di satu pihak tetap mempertahan identitasnya dalam ikatan persatuan nasional,

Globalisasi juga menimbulkan perubahan sosial yang cenderung untuk menciptakan guncangan sosial (culture shock). Masuknya pemikiran seperti demokrasi, HAM, kesetaraan gender sedikit banyak mengguncang sendi masyarakat. Ketidaksiapan masyarakat ketika menemukan nilai baru malah menimbulkan keguncangan dan friksi terendiri. Perubahan sosial terus terjadi selama proses globalisasi karena masuknya nilai-nilai asing. Pada hakekatnya perubahan sosial yang terjadi akibat globalisasi dipandang sebagai upaya bangsa untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri melalui penyesuaian dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern.

Pengaruh globalisasi

Globalisasi menimbulkan berbagai akibat, baik positif maupun negatif. Akibat yang timbul harus disikapi dengan baik, antara lain:

Pengaruh positif

1.Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Pemerintahan yang transparan dan demokratis akan menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap negara yang berujung pada meningkatnya rasa nasionalisme.

2.Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Terpenuhinya kebutuhan dasar warga negara akan mempengaruhi warganegara dalam hal pengabdian kepada negara.

3.Dari globalisasi sosial budaya kita mencontoh pola piker dan tingkah laku yang baik seperti etos kerja yang tinggi, disiplin, profesionalisme dari bangsa lain yang untuk diaplikasikan yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

Pengaruh negatif


1.Globalisasi membawa paham liberalisme yang selalu diidentikkan dengan kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.

2.Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri. Kebanggaan terhadap produk asing mengakibatkan minder yang justru menyurutkan rasa nasionalisme.

3.Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Budaya barat selalu dianggap yang paling baik sehingga melupakan budaya bangsa.

4.Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.

5.Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga.
Mencegah efek negatif

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

1.Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.

2.Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.

3.Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.

4.Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.

5.Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa

Maka kita harus bijak dalam mensikapi globalisasi.Jangan sampai kita hanya terpengaruh dengan efek negatifnya saja.

Ngaji politik, politik ngaji

rOleh wongbanyumas

Setiap hari dalam hidup kita tidak akan pernah jauh dan lepas dari istilah politik. Mulai dari tingkat atas di Jakarta sampai di tingkat daerah, politik selalu menjadi perbincangan hangat. Mulai dari tukang becak yang mangkal di pinggir jalan sampai para mahasiswa yang bergelut di kampus tak pernah lepas dari hingar bingar politik. Saya tidak akan menjelaskan definisi politik dengan bahasa akademis. Tetapi berusaha memaknai politik dengan bahasa yang lugas dan dimengerti masyarakat. Saya mencoba mengartikan politik sebagai cara atau usaha untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan oleh sekelompok orang atau individu. Sebatas artian menurut orang biasa yang tidak paham sisi njelimet dunia poitik.

Tujuan orang berpolitik adalah untuk. mewujudkan ide dan cita-cita yang dimiliki oleh pelaku (politisi). Politik selalu diidentikkan dengan kekuasaan. Padahal cakupan politik sesungguhnya amatlah luas. Politik juga tidak hanya diartikan bagaimana cara seseorang untuk memimpin dan mengelola negara. Ketika kita hendak menjalani hidup juga dapat dikatakan sebagai politik. dalam berpolitik harus mempunyai strategi yang canggih untuk menaklukkan lawan. Nantinya diberikan kebebasan dalam metoda berpolitik, mulai dari a la machiavelli, a la aristoteles, a la Muhammad, atau a la sukarno.

Dalam islam dikenal istilah siyasah. Siyasah berarti siasat atau strategi, namun sering diartikan sebagai politik. Islam sebagai agama yang diridhoi Allah Swt mengatur kehidupan bernegara bagi setiap ummat islam. Islam tidak akan lepas dari sendi-sendi kehidupan para penganutnya. Hal ini sangat bertentangan dengan ide kaum sekuler yang mencoba memisahkan hubungan agama dengan berbagai bidang. Agama hanya dilihat dari sudut ibadah berupa ritual saja bukan ibadah dalam artian luas.

Mengapa harus berpolitik dalam islam?

1. Untuk menegakkan syari’at Allah diperlukan perangkat khusus. Perangkat ini nantinya dapat membuat peraturan yang sesuai dengan Al-qur’an dan as-sunnah. Oleh karena itu islam harus masuk dalam lembaga legislatif. Seorang legislator muslim dalam membuat sebuah lege (undang-undang) harus memperhatikan nilai luhur ajaran agama. Nantinya jangan sampai mengorbankan kepentingan rakyat banyak dan lebih memihak pada investasi asing.

2. Ketika sebuah peraturan dibuat dan diundang-undangkan ada lembaga yang membuat kebijakan dan menjalankan peraturan tersebut. Lembaga eksekutif, yaitu presiden beserta jajaran menteri haruslah diisi dengan pejabat yang mengamalkan nilai luhur ajaran Muhammad SAW. Pada dasarnya kebijakan sebuah negara ditentukan oleh pucuk pimpinannnya yaitu seorang presiden. Peran sentral seorang presiden muslim nantinya akan memberikan kenyamanan bagi ummat untuk menjalankan aktivitas keagamaan. Harus ada pemimpin yang mengakomodir kepentingan ummat.

3. Penegakan hukum adalah hal yang penting dalam sebuah negara. Ketika syariat Allah diberlakukan harus ada lembaga yang berperan sebagai pelaksana dan penegak aturan tersebut. Adanya hakim dan qadhi yang baik akan menjaga agar hak kaum muslimin tidak diinjak-injak

Bicara politik berarti bicara kepentingan. Karena pada dasarnya tidak ada kawan abadi tetapi yang ada hanyalah kepentingan abadi. Lihatlah PKB dimana konflik muncul akibat pertentangan antara paman (gusdur) dengan keponakannya (muhaimin). Terkait dengan itu pula maka dalam melakukan strategi politik harus memiliki pendukung atau konstituen. Konstituen adalah orang-orang yang berada dibelakang kita yang menjadi pendukung dari pergerakan yang kita lakukan. Dalam sebuah organisasi kepartaian konstituen ada dua yaitu kader dan simpatisan.

Membentuk kader yang loyal dan militan pasti menjadi impian setiap organisasi. Sebab tanpa kader yang militan organisasi tersebut akan kekurangan tenaga. Ketika saat ini partai politik mulai memanaskan mesin menuju ajang kompetisi akbar di pertengahan 2009. Banyak cara yang dilakukan untuk mencari konstituen. Salah satu cara yang dilakukan oleh partai islam adalah dengan masuk ke arena pembinaan ummat (pengajian-pengajian).

Kita diperintahkan oleh Allah untuk berislam secara kaffah yang mungkin diartikan sebagian orang adalah berislam secara menyeluruh. Konsekuensi yang muncul adalah kita tidak bisa mengenyampingkan nilai agama dalam setiap sendi kehidupan, salah satunya adalah kehidupan bernegara. Maka nilai luhur agama islam tidak boleh luntur dalam praktik kenegaraan. Karena pada dasarnya cita-cita utama politik islam adalah untuk menegakkan syariat Allah di mua bumi. Sehingga umat islam harus mendukung gerakan politik ini. Sebab Allah memerintahkan ummat islam untuk menjalankan aturan yang telah disyariatkan.

Momentum pemilu 2009 menjadi ajang pembuktian bagi partai-partai yang berbasiskan islam. Politik bisa disampaikan lewat forum islami seperti pengajian. Kader diajarkan mengenai metode politik islam dan mewujudkan syariat untuk semua. Namun yang saya kurang sepakat adalah ketika ajang ngaji dipolitisasi. Pada dasarnya orang mengaji untuk menambah ilmunya bukan untuk ikut partai politik. Hal ini sering disalahgunakan oleh partai politik untuk merekrut simpatisan. Orang yang tidak berdosa itu malah diarahkan untuk memilih partai politik tertentu. Salahkah??
Cobalah untuk dijawab sendiri...

SP (semester payah)

Jadwal SP (semester payah) banget
Oleh : wongbanyumas
Kesal, marah , dan kecewa. Mungkin hal itu yang terpintas dalam benak saya ketika melihat jadwal SP (semester pendek) di semester ini. Banyaknya jadwal yang saling bentrok menjadi pemicunya. Banyak mahasiswa yang protes dan mempertanyakan jadwal yang terkesan semrawut ini. Bagaimana kami tidak kesal, karena mata kuliah yang kami ambil ternyata hanya ada satu kelas dan itupun bentrok dengan mata kuliah lain yang juga hanya disediakan satu kelas saja. Ketika ditanya mengenai solusinya, bagian pendidikan hanya menyatakan bahwa hal tersebut adalah resiko yang harus ditanggung oleh mahasiswa.

Dalam hati agak dongkol memang. Mereka pikir mungkin kita tidak pintar, tapi kami tidak bisa dibodohi. Masalahnya adalah ternyata ketika tenggat waktu pengisian KRS jadwal belum terpampang dan mahasiswa harus segera mengumpulkan KRS tersebut tepat waktu. Buat saya biaya Rp 20.000 per SKS memang tidak memberatkan tapi hal yang mengesalkan adalah waktu yang saya habiskan di kota Purwokerto tercinta ini ternyata sia-sia. Padahal saya sudah mendahulukan SP dari pada berkumpul dengan keluarga.

Masih terbayang bagaimana buruknya manajemen perkuliahan di kampus ini. “Lha wong copy-paste tok mas” salah satu dosen berujar mengenai jadwal perkuliahan reguler. “Wah yang reguler aja copy-paste gimana jadwal eSPe ya??” terbersit pertanyaan yang cukup menggelitik hati saya. Hal yang sangat unik adalah sang pembuat jadwal sangat tidak teliti dalam penempatan waktu kuliah. Akibatnya banyak kawan saya yang mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas kuliah.

Sekali lagi saya berprasangka baik bahwa jadwal SP ini disusun secara mendadak. Sebab saya paham bahwa SP sekarang masih baru dan pihak fakultas masih belum bisa menyesuaikan diri. Mungkin khilaf, pikir saya tanpa harus bersuuzon ria terhadap Bapendik. Saya hanya bisa berharap nantinya di tahun yang akan datang pelaksanaan SP harus lebih baik lagi.

Lucu memang ketika melihat kampus yang katanya terakreditasi A ini ternyata secara praksis jauh panggang dari api. Awalnya saya sangat berharap dengan pelaksanaan SP yang akan mengangkat nilai saya ini. Tapi begitu tahu pelaksanaan SP seperti ini saya agak kecewa juga. Saya hanya berharap kepada Ibu Rochani yang ternyata terpilih kembali menjadi dekan mampu membawa fakultas hukum tercinta ini menjadi lebih baik. Amin.....

Mahasiswa baru, harapan baru atau kekecewaan baru

Oleh wongbanyumas

Semester ganjil ahirnya datang. Pertengahan tahun ini adalah waktu yang dinanti banyak orang di kampusku. Penghujung tahun akademik merupakan moment yang sering ditunggu oleh para mahasiswa. Pembagian KHS (kartu hasil studi) semester ini sangat mendebarkan. Karena semester ini adalah tahun keduaku di kampus. Tak terasa empat semester kulalui bersama kawan-kawan yang tetap setia berjuang bersama. Meskipun ada beberapa kawan yang ahirnya menyerah pada kenyataan.

Tahun baru, harapan baru. Begitu kata orang jika menghadapi penghujung tahun. Begitupun kami para mahasiswa yang juga mempunyai pengharapan di tahun akademik yang baru. Awal tahun akademik berarti akan hadir kawan baru bagi kami. Ya kedatangan mahasiswa baru adalah hal yang dinantikan oleh kami para mahasiswa (lama). Sebagian teman berceletuk ringan “wah ntar mahasiswa baru di kampus kita cantik-cantik gak ya? Jadi gak sabar nih.”. lucu juga mendengar pernyataan spontan seperti itu. Seakan ada pengharapan yang sangat besar dengan kedatangan mahasiswa baru.

“Tahun ajaran baru tampilan juga harus baru biar dapet pacar baru!!”tukas salah satu kawan. Tidak salah jika mereka mengharapkan hal demikian. Hal itu adalah hal yang wajar buat manusia yang memang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk saling berpasangan. Keanehan terjadi di kampus merahku, setiap tahunnya ada “progresifitas” tampilan para mahasiswa baru. Semakin kesini penampilan mereka makin berani. Berani mengeksplorasi tubuh dan wajahnya untuk memuaskan pandangan syahwat kaum adam. Berani pula menerima siksa api neraka karena tidak menutup auratnya. Tiap tahun mahasiswa semakin trendy, modis, dan gaul gitu loh.

Justru yang mengherankan di balik progresifitas tersebut terjadi degradasi dalam hal kemampuan akademik dan sensitifitas sosial. Hal yang wajar ketika ternyata sebagian besar mahasiswa yang berpenampilan modis itu berasal dari jalur penerimaan SPMB lokal, atau yang di universitas lain dikenal dengan ujian mandiri (UM). Bukan maksud untuk merendahkan kawan-kawan dan menggeneralisir mahasiswa yang masuk lewat jalur lokal. Tapi mendasarkan pada pengamatan saya selama dua tahun saya menangkap fenomena bahwa etos kerja dan mental mereka rapuh. Terlalu dimanjakan oleh fasilitas, seperti mereka yang dimanjakan dengan kemudahan mengakses pendidikan tinggi karena kemampuan finansial.

Bagi aktivis kampus tahun akademik baru juga menghadirkan secercah harapan. Harapan akan kader yang militan dan solid juga memiliki kemampuan manajemen organisasi yang baik. Harapan akan adanya penerus gerakan mereka baik di UKM, ORMAS, LSM, maupun organisasi lainnya. Organisasi membutuhkan regenerasi dan pembaharuan yang dilakukan oleh golongan muda. Sesuai dengan hukum ketidakabadian, bahwa yang muda akan menjadi tua. Begitupula dengan para mahasiswa yang secara perlahan mulai sibuk dengan skripsinya. Sehingga dibutuhkan orang-orang baru yang fresh. Menjadi batubara yang menyalakan kobaran api sehingga roda organisasi terus berjalan.

Harapan itu kandas ketika ternyata kenyatan yang dihadapi tidak sesuai dengan ide dan mimpi. Rupanya memang pengaruh kapitalisasi disegala bidang, termasuk bidang pendidikan. Ternyata mempengaruhi pola pikir generasi muda sekarang. Lihatlat kini gairah kehidupan dan nuansa akademis di kampus mulai meredup. Sekre yang jadi markas kaum intelektual mulai sepi dan di tinggalkan. Kini intelektual muda lebih memilih cafe, warnet, atau bahkan diskotik sebagai tempat nongkrong. Ketidakpedulian kini menjadi hal yang lumrah di kampusku. Lihatlah bagaimana sikap wakil mahasiswa yang menolak ajakan untuk menyerukan penolakan terhadap kenaikan BBM. Mengaku wakil mahasiswa tetapi tidak punya sensitifitas terhadap keadaan kekinian. Justru mereka asyik dengan kegiatan yang lebih banyak mudhorot. Malu rasanya jika mengaku mahasiswa tapi sikap kita tidak menggambarkan identitas diri kita sebagai seorang mahasiswa.

Harapan lahir ketika kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik ke depannya nanti. Harapan adalah doa seseorang terhadap masa depan. Harapan adalah impian untuk menemukan kebahagiaan.

Harapan akan prestasi yang lebih baik pasti ada dalam benak semua mahasiswa. Pencanangan target yang IP mencapai Cum laude, atau paling tidak mendapatkan IP di atas 3,00. Target agar selalu mendapatkan yang terbaik dalam setiap mata kuliah. Berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang telah diperbuat di semestr sebelumnya terus menggelayuti pikiran kami.

Namun harapan itu akan berubah pahit ketika ternyata hasil yang kami peroleh jauh dari prediksi. Kesedihan dan kepedihan serasa menusuk kencang dalam dada. Semangat yang membuncah kini hanya tinggal puing belaka. Tetapi jangan pernah sekalipun menyerah pada kenyataan hidup. Hidup harus dilalui dengan semangat. Sebab Allah Swt tidak akan merubah nasib kita jika bukan kita sendiri yang berusaha untuk merubahnya. Maka semangatlah dalam menghadapi hidup!!!

Ulama yang Saleh adalah musuh negara

Oleh wongbanyumas

Negara merupakan entitas tertinggi dalam kehidupan bernegara. Negara terbentuk akibat adanya kesepakatan antara warganegara untuk hidup berdampingan. Awalnya negara hanya meliputi sebuah kota kecil saja. Namun secara perlahan negara berkembang seiring pertumbuhan yang terjadi dalam masyarakatnya. Kebudayaan juga mulai terbentuk dari interaksi masyarakat dalam lingkup wilayah tersebut. Manusia yang pada awalnya memenuhi kebutuhan dengan berburu dan hidup berpindah-pindah tempat (nomaden), mulai menemukan pola hidup baru dengan bercocok tanam. Perdagangan ahirnya tercipta untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Konflik dalam masyarakat pun bermunculan kepermukaan pada awal pembentukan sebuah negara. Kemudian berdasarkan kesepakatan warga di pilihlah wakil yang dianggap kompeten untuk membimbing dan mengarahkan mereka dan memberikan rambu-rambu dalam kehidupan. Itulah pertama kali pemerintahan terbentu. Pada dasarnya pemerintah ada untuk melayani masyarakat dan memberikan keamanan bagi masyarakat untuk melakukan kegiatannya. Bentuk pelayanan yang dilakukan oleh negara harus mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Hal itulah yang menjadi cita-cita utama pembentukan negara.

Untuk menjamin keamanan warganegaranya maka negara melalui perangkatnya dapat mengambil tindakan pengamanan baik secara preventif ataupun represif. Tindakan yang dilakukan oleh negara umtuk menjaga keamanan negara dilaksanakan oleh tentara dan polisi sebagai alat pemerintah. Tindakan preventif dapat dilakukan dengan melakukan patroli dan penjagaan keamanan. Tindakan preventif bertujuan untuk menghindari terjadinaya gangguan keamanan. Lain halnya dengan tindakan represif yang dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran dalam masyarakat. Tindakan represif selalu identik dengan kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

Lihatlah tindakan represif aparat yang beringas bagaikan macan yang mengejar anak ayam ketika mengejar para demonstran di kampus universitas nasional (unas). Penulis agak geram ketika melihat berita yang melaporkan tindakan keji dalmas terhadap mahasiswa. Melihat konteks negara sebagai penjaga keamanan membuat penulis saya berfikir bahwa saat ini negara sudah tidak mampu menjalankan fungsinya. Haruskah indonesia bubar seperti yang ditulis dalam buku. Negara saat ini tidak pernah konsisten dalam menjalankan fungsinya.

Kita semua mengetahui peran sentral agama islam bagi negara Indonesia. Pada masa jaman kerajaan hanya islamlah yang mampu menyatukan nusantara, bukan oleh sumpah palapa yang memiliki semangat penjajahan dan imperialisme. Penyatuan oleh islam dilandaskan pada akidh ummat dan bukan melalui jalan kekerasan. Semasa perjuangan merebut kemerdekaan islam sebagai agama anti penjajahan kembali menyatukan rakyat indonesia yang seaqidah untuk melawan penjajah, bukan oleh sumpah pemuda yang kini mulai dilupakan oleh para pemuda. Sampai dengan saat ini peranan ummat islam bagi NKRI sangat besar. Namun NKRI menghianati ummat islam dengan menghapuskan tujuh kata dalam piagam Jakarta. Tindakan zalim yang sampai saat ini membuat sakit hati ummat islam kepada pemerintah.

Islam disyiarkan oleh para ulama di Indonesia. Peran ulama bagi bangsa ini sangat besar kontribusinya. Lihatlah KH Agus salim, KH Buya hamka, KH Hasyim as’ari, KH Ahmad dahlan, Kahar muzakkar, dll. Mereka semua adalah singa Allah yang berjuang demi tegaknya islam di Indonesia, meskipun mereka melakukan dengan cara yang berbeda. Baik melalui upaya kultural maupun secara struktural. Buya Hamka yang merupakan tokoh islam besar yang sangat disegani hingga ke negari jiran sendiri dijadikan musuh oleh pemerintah. Saat itu bung Karno tidak menyukai buya hamka karena hamka mendakwahkan islam kepada masyarakat. Konsep Nasakom yang diusung Sukarno terancam gagal. Namun Hamka tidak pernah membenci Sukarno. Bahkan Hamka menjadi imam sholat jenazahnya bung karno.

Lain Hamka lain pula Kahar Muzakkar. Pria kelahiran sulawesi ini malah dianggap sebagai pelaku makar. Padahal kita semua mengetahui bahwa kahar muzakkar merupakan salah satu tokoh pemuda yang berjuang demi kemerdekaan indonesia. Perjuangan untuk menegakkan kalimatullah berakhir dengan pengorbanan nyawa dari sang syuhada. Kekecewaan beliau akibat penghianatan bung karno akan cita-cita piagam jakarta. Maka beliau mengangkat sejata untuk menegakkan islam di Indonesia.

Masa orde baru menjadi catatan suram bagi para ulama. Pemerintahan tangan besi yang kejam sangat membatasi gerak-gerik ulama. Kegiatan pengajian bahkan selalu dipantau oleh intelejen. Kekutan islam saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah. Saya sendiri tidak habis fikir mengapa kegiatan kerohanian dianggap sebagai upaya maka. Bahkan di Jakarta proses kegiatan tarbiah dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Sebab polisi akan menangkap orang yang melakukan forum-forum pengajian. Apalagi dengan adanya pengewasan melekat melalui Babinsa.

Tengoklah sekilas bagaimana peristiwa pembantaian di masjid di daerah tanjung priok pada era orde baru. Hal tersebut menjadi cermin kebencian negara terhadap umat islam. Padahal kita semua paham bahwa mayoritas penduduk indonesia menganut agama islam. Cukup aneh memang melihat fenomena yang ada. Melihat bahwa islam dianggap sebagai ancaman serius bagi negara kita. Padahal tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan oleh pemerintah jika pemerintah bertundak sesuai dengan ketentual Al-qur’an dan As-sunnah. Inilah yang menjadi alasan negara (pemerintah) untuk membenci islam.

Menurut mark cammac, meskipun indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia bukan berarti islam dapat diterima oleh masyarakat. Pada dasarnya hanya memiliki kesamaan artifisial dengan etika kenabian dan legisme timur tengah. Islam statistik merupakan sinkretisme unsur-unsur animisme, mistik india dan islam. Kelompok ini menikmati supremasi politik dan duduk pada posisi birokrasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa islam murni yang menerima aturan Illahi adalah golongan minoritas di negri ini.

Sangat sulit untuk mengajukan konsep bernegara yang melandasi dengan hukum islam. Islamophobia melanda sebagian besar birokrat dan pemimpin negeri ini. Perkara bughat dan bathil harus dimusnahkan dari muka bumi. Islam memerintah ummatnya untuk menghindari keduanya. Maka negara berupaya untuk terbebas dari stigma bathil dan bughat. Padahal prilaku mereka seperti korupsi, foya-foya, makan uang rakyat, plesir, pesta sex, pesta narkoba, dll adalah wujud kebathilan. Dengan segala daya upaya negara berusaha membentuk citra islam yang hanif menjadi buruk.

Semenjak peristiwa 11 september ummat islam mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Perlakuan ini tidak hanya oleh negara asing saja melainkan oleh para pemerintah negara yang dzalim dan lalim. Lihat betapa biadabnya pervez musharraf ketika menyerang para ulama di dalam masjid merah. Lihat pula presiden Iraq, Hamid Karzai yang menyerang mujahidin dengan serangan terpadu dengan Amerika. Lihat pula SUSILO BAMBANG YUDHOYONO yang dengan bangga menyatakan mabes polri telah menangkap “gembong teroris”. Islam kini malah dicitrakan sebagai teroris. Padahal kita paham bahwa teroris sebenarnya adalah Amerika dan anteknya.

Para ulama yang konsisten dengan nilai islam dan berjuang dengan nama Allah selalu menjadi musuh negara. Contohlah sepak terjang ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang konsisten dalam dakwah dan selalu memperjuangkan syari’at islam untuk tegak di bumi Indonesia tercinta ini. Beliau malah dianggap sebagai pimpinan gerakan (fiktif) Jama’ah Islamiah. Kita semua mengetahui ustadz Abu sudah tidak berdaya karena sudah tua. Tapi mengapa negara sangat takut padanya? Jawabnya adalah semangat al-islam yang membara dalam dirinya. Islam sebagai pembebas dan pembaharu adalah yang disampaikan ustad Abu. Hal itulah yang ditakuti negara....

Kekerasan dalam ospek

Oleh wongbanyumas

Detik-detik menjelang menghadapi penerimaaan mahasiswa baru di berbagai kampus mulai diadakan pembentukan kepanitiaan OSPEK (orientasi pengenalan kampus). Banyak mahasiswa yang tertarik untuk ikut dalam kepanitiaan ospek ini. Mungkin sebenarnya untuk apakah ospek itu? Mungkin banyak kawan-kawan yang bertanya sebenarnya untuk apa ospek diadakan. Pada awalnya ospek adalah bentuk pelatihan militer kepada para mahasiswa ketika pertama masuk ke sebuah universitas. Disana mahasiswa baru dididik dan digembleng ala militer. Tujuannya adalah untuk bela negara. Hal ini berlaku selama masa awal kemerdekaan dan orde baru.

Praktek kekerasan seringkali dalam ospek menimbulkan korban. Sudah banyak mahasiswa yang terluka akibat kekerasan yang ada dalam ospek. Mungkin kita sering mendengar istilah plonco. Memang dulu praktek perploncoan hidup dalam kampus. Namun perlahan budaya tersebut dihilangkan dari kampus. Karena paradigma pendidikan juga mengalami perubahan dari pendekatan militer ke pendekatan ilmiah.

Perlahan tapi pasti pendekatan militer dan fisik mulai berkurang dari ospek. Kini sering kita saksikan ospek seringkali mengunakan tekanan secara psikis. Menurut saya hal ini justru menimbulkan akibat yang luar biasa bagi kejiwaan korban. Pernah saya mendapati mahasiswa baru yang ikut ospek menangis ketakutan karena sepanjang sesi acara mendapat “semprotan’ dari seniornya. Saya pikir tindakan mereka sangat salah.

Ospek sesungguhnya diadakan untuk lebih memperkenalkan mahasiswa baru dengan dunia barunya yaitu dunia kampus. Melalui ospek para pendahulu (saya tidak akan menggunakan kata senior) menjadi fasilitator bagi mahasiswa baru untuk lebih memahami kampus dan seluk-beluknya. Mahasiswa baru diberikan konseling dan bimbingan oleh para pendahulu. Tujuannya awalnya memang baik, yaitu lebih mendekatkan mahasiswa baru kepada kampusnya. Sehingga masa transisi dari SMA ke bangku kuliah berjalan dengan baik. Terkadang ada mahasiswa yang kaget dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Kekerasan adalah hal yang sangat tidak dianjurkan dalam kegiatan apapun di kampus. Kekerasan hanya akan menimbulkan onflik dan masalah. Akan tetapi masih banyak kawan mahasiswa yang menggunakan kekerasan dalam ospek. Hare.. gene... maen pukul?? Udah ga jaman buat kita main pentung terhadap orang lain. Bukankah kampus merupakan tempat kegiatan ilmiah dan bukan ajang unjuk gigi dan adu otot. Sering ospek dimanfaatkan segelintir orang agar lebih eksis dan dikenal di mata mahasiswa baru. Hal inilah yang mengakibatkan budaya kekerasan dalam ospek terus mendarah daging.

Kalau boleh saya bandingkan bukankah sama seorang mahasiswa yang main pukul terhadap sesama dengan anak balita yang berkelahi akibat berebut mainan. Konyol jika melihat aksi kekerasan di kampus kita. Sedih rasanya membayangkan betapa sakitnya tendangan dan pukulan yang bersarang ditubuh saudara kita. Akankah kekerasan terus ada dalam ospek. Hal ini akan mencemari citra kampus sebagai ladang pengetahuan bukan ladang pembantaian.

Boleh saja jika ingin tampil dan eksis dihadapan para mahasiswa baru. Tapi jika menggunakan kekerasan adalah cara yang kuno (katro). Mengaku mahasiswa tetapi berperilaku layaknya preman pasar yang main pukul. Wahai mahluk yang mengaku mahasiswa ayo tunjukkan eksistensimu dengan akal dan perasaan yang telah Allah SWT berikan. Jangan hanya omong doang tapi buktikan dengan prestasi.