Pages

Menjadi kaya (karena) sampah

Oleh Wongbanyumas

Pernahkah kamu membayangkan bahwa akan menjadi jutawan karena sampah? Pernahkah anda membayangkan berapa besar penghasilan yang anda terima dari setumpuk sampah. Saya pernah berhayal bahwa saya akan menjadi seorang pengusaha sukses yang berlatar belakang pada sampah. Semua orang mengetahui sampah adalah barang yang tidak lagi berguna. Eits... itu hanya kata segelintir orang saja. Bagi sebagian kecil orang sampah adalah tambang emas dan sumber rezeki.

Saya akan berbagi mimpi dengan anda mengenai sampah. Pertama kali saya berfikir bahwa setiap hari kita selalu menciptakan sampah. Dapat dibayangkan berapa banyak sampah yang dibuang dalam sebuah rumah tangga. Sangat banyak sampah yang dihasilkan oleh sebuah rumah. Maka jumlah sampah selama satu hari dikalikan tujuh hari. Selama satu minggu kita dapat mengumpulkan gundukan sampah dihalaman rumah kita. Silahkan kalikan empat kali, berapa banyak sampah yang kita kumpulkan selama satu bulan? Kalkulasikan terus menerus sampai dengan satu tahun. Sangat banyak bukan? Sampai-sampai rumah kita pun tidak sanggup menampung sampah yang kita produksi sendiri.

Selama ini yang selalu luput dari perhatian kita adalah tempat pembuangan sampah. Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) selalu dianggap sebagai hal yang sepele. Seringkali manajemen TPA hanya melakukan pindah tempat ketika sampah telah menggunung tinggi. Coba pikirkan bagaimana menciptakan uang dari fakta yang ada di atas. Pikirkan bagaiman menghasilkan uang dimulai dari lini pertama yakni lingkungan rumah tangga.

Pernyataan seorang dosen cukup mengelitik saya. Ketika itu dia berkata bahwa biaya pembuangan sampah di rumahnya cukup mahal namun ia tetap memanfaatkan jasa tersebut. Karena tidak munkin sampah akan dibiarkan begitu saja terongok di halaman rumah. Keluhan tersebut memberikan sedikit inspirasi bagi saya. Selama ini saya melihat bahwa pihak dinas pekerjaan umum kurang serius dalam menggarap tambang uang ini. Seandainya dinas PU bersikap profesional dan serius bukan tidak mungkin akan menambah peluang kerja baru. Terbersit dalam pikiran untuk membuka usaha pengangkutan sampah. Terkesan bahwa pihak swasta tidak pernah tertarik dengan sampah.

Memang sangat remeh mungkin buat anda. Tetapi dengan modal yang cukup untuk membeli mobil khusus sampah yang di import dari italia kita dapat memulai bisnis ini. Cobalah anda menyambang komplek perumahan terdekat dan tawarkan jasa ini ke masyarakat. Tidak perlu menetapkan tarif tinggi kepada pelanggan anda. Yang terpenting anda harus memberikan servis terbaik seperti keramahan dan tepat waktu. Insya Allah rizki akan mengalir ke kantong anda. Saya mencoba mengkalkulasikan jika biaya angkut sampah selama satu bulan sebesar tujuh ribu rupiah (RP 7.000). Jika dalam sebuah perumahan terdapat lebih dari seratus rumah maka keuntungan sudah mulai dapat terbayang dibenak kita. Lalu pikirkan juga bahwa semua orang membutuhkan pengangkutan sampah.

Maka perluas jangkauan kerja anda ke pemukiman dan perumahan lain. Gunakan iklan melalui pamplet atau pengeras suara. Promosi lebih efektif jika kita memberikan servis yang paling prima dari kita. Maka keuntungan yang cukup banyak sudah terbayang di depan mata. Peluang ini juga memberikan kesempatan kerja baru.

Berlanjut kemudian pada sektor pembuangan sampah. Pengelolaan pembuangan sampah memang membutuhkan dana yang cukup besar. Terutama untuk membeli lahan dan mesin pengolah yang nantinya akan digunakan untuk pengolahan sampah. Namun kita dapat mensiasatinya dengan menarik investor ataupun meminjam modal dari bank. Pengelolaan sampah di negeri ini terkesan asal buang. Cobalah tengok bagaimana pengelolaan sampah di jepang. Mencoba menerapkan sistem disana kita dapat melakukan pengolahan lebih lanjut sampah yang ada. Pertama kali kta hrus memisahkan antara sampah basah dengan sampah kering. Kemudian lakukan klasifikasi lebih lanjut yakni barang yang dapat di daur ulang-yang tidak dapat didaur ulang; sampah hijau-sampah non hijau; sampah kimia-sampah organik. Setelah melakukan klasifikasi lakukan pemisahan terhadap sampah tersebut. Untuk hal ini anda dapat mempekerjakan pemulung yang biasanya berada di TPA. Mereka lebih pengalaman dan lihai untuk memilah serta menentukan jenis sampah. Ini menjadi peluang kerja yang menarik bukan.

Setelah dilakukan pemisahan kita dapat mengola sampah yang sudah disortir berdasarkan klasifikasi yang ada. Saya melihat potensi besar pada sampah basah. Pengelolaan sampah basah dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi pupuk organik yang kaya akan unsur hara. Hasil pupuk ini nantinya dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan di lapangan. Untuk sampah daur ulang kita dapat mengolahnya pula. Misalnya sampah plastik, sisa plastik dapat kita masak menjadi bijih-bijih plastik. Nantinya bijih plastik ini dapat kita jual kepada perusahaan lain.

Ternyata memang banyak faedah serta manfaat yang ada dalam sampah. Karena pada dasarnya Allah Swt menciptakan sesuatu pasti meiliki manfaat bagi kita terutama manusia yang dapat berfikir. Peluang usaha yang cukup besar ini sampai sekarang belum dilirik orang. Mungkin anda berminat menjadi milyuner sampah pertama di Indonesia.

Penegakan hukum setengah mati


Oleh Wongbanyumas

Miris melihat betapa lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Mulai dari pejabat sampai dengan rakyat jelata di Indonesia adalah seorang pelanggar hukum. Bahkna aparat penegak hukum sekalipun termasuk sebagai pelanggar hukum. Tengoklah sejenak kasus beberapa jaksa yang meminta uang suap kepada “klien” mereka di pengadilan. Tengoklah bagaimana kasus korupsi dan suap yang melibatkan bapak-bapak polisi kita. Sedih memang jika melihat kenyataan demikian. Padahal seharusnya merekalah yang menjadi ujung tombak penegakan hukum di Indonesia bukan sebagai lembaga yang menjadi pengkhianat terhadap hukum.

Masalah utama dalam penegakan hukum di negeri adalah kurangnya keseriusan pemerintah dalam hal pembinaan serta penegakan hukum. Selama ini yang menjadi fokus pemerintahan selalu memusatkan pada pembangunan serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Padahal seharusnya hukum dijadikan sebagai panglima. Namun lagi-lagi pemerintah berkelit bahwa pembangunan ekonomi harus didahulukan karena terkait kepentingan rakyat banyak.

Tidak salah argumen tersebut. Namun kita perlu melihat bahwa di setiap bidang kehidupan yang digeluti manusia membutuhkan suatu tata aturan. Tata aturan ini bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan keteraturan. Perangkat inilah yang kemudian dinamakan sebagai perangkat hukum. Sampai dengan saat ini belum ada orang yang mampu memberikan definisi mengenai hukum yang dapat memuakan banyak pihak. Hal ini terkait pada fakta bahwa hukum juga dipengaruhi oleh unsur subjektifitas dari individu yang terlibat. Untiuk mendefinisikan saja mengandung unsur subjektif maka dapat dibayangkan penegakan hukum yang dipenuhi oleh unsur subjektif.

Fundamen negara Indonesia adalah UUD 1945 (amandemen). Dalam UUD 45 termaktub bahwa negara kita adalah negara hukum, apa artinya? Ini berarti bahwa Indonesia adalah negara yang taat dan patuh kepada aturan hukum. Negara yang melandaskan sesuatunya kepada perangkat hukum. Hal ini justru lebih mengarahkan kepada konsep legisme dan pola pikir positivistik. Tujuan yang ingin tercapai memang baik yakni kepastian hukum bagi setiap warga negara. Akan tetapi pola pikir demikian dapat menimbulkan kekacauan hukum. Mengapa muncul kekacauan? Karena berlaku dalam keteraturan tersebut kita menemukan kerumitan dan keruwetan hukum. Keruwetan ini muncul ketika hukum tersebut kaku dan rigit serta tidak mampu menyelesaikan masalah kekinian.

Penegakan hukum sendiri dapat digolongkan menjadi dua yakni:
1. Preventif
Penegakan hukum yang dilakukan melalui cara ini adalah dengan mengkondisikan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan hukum. Dapat pula dikatakan sebagai tindakan pencegahan. Penegakan hukum secara persuasif perlu dilakukan agar masyarakat mengerti mengenai aturan hukum.

2. Represif
Penegakan hukum secara represif dilakukan bilamana telah terjadi pelanggaran terhadap suatu peraturan hukum. Dapat dilakukan melalui penjatuhan sanksi (punishment) atas kesalahan yang diperbuat.

Melihat dua poin tersebut kita harus menyeimbangkan antara penegakan hukum secara prevebtif dan represif. Pendekatan preventif didahulukan. Sebenarnya sangatlah mudah ketika kita memperdebatkan pelanggaran aturan hukum. Banyak orang selama ini tidak sadar telah menjadi seorang pelanggar hukum.

Berdasarkan hasil pengamatan saya selama ini di jalan kampus. Saya menemukan fakta bahwa pelanggar aturan paling banyak adalah mahasiswa. Ini menjadi fenomena yang cukup menarik untuk diangkat kepermukaan. Sebagian besar mahasiswa sendiri mengakui hal ini dan mereka memberikan argumen serta pembelaan terhadap tindakan mereka. Dan satu alasan klise yang sering terdengar adalah tidak adanya aparat kepolisian. Sepintas terdengar seperti alasan yang cukup logis. Namun jika direnungkan alasan tersebut menjadi bukti bahwa mental ketaatan akan hukum belum terbentu. Kesadaran tertinggi untuk mengakui adanya kebutuhan akan aturan hukum akan muncul.

Mahluk eksotik nan menarik


Oleh wongbanyumas

Pertama kali aku melihatnya aku langsung tertarik dan jatuh cinta. Awalnya aku tak berani bertanya siapa namanya. Aku hanya menatap sesekali tanpa berani memandang langsung. Ketertarikanku padanya sangat luar biasa. Kulakukan pendekatan dengan seorang bapak secara perlahan-lahan agar bapak tersebut memberikan izinnya pada ku. Agar bapak tersebut memberikan mahluk eksotik tersebut.

Kutanya pada bapak itu siapa namanya. “palmas” jawab bapak itu dengan nada lirih. Ternyata mahluk eksotis berkulit putih tersebut bernama palmas. Aku sungguh sangat tidak mengerti akan apa yang aku rasakan. Kawan-kawanku mengatakan bahwa ia sangat buruk rupa dan tidak menarik. Tetapi di mataku beda. Ia memancarkan keindahan yang mungkin hanya dapat ditangkap dengan mataku saja. Mahluk itu memang tidak cantik namun hal tersebutlah yang membuat aku tertarik.

Mahluk kecil berwarna putih tersebut ternyata adalah seekor ikan. Ikan eksotis tersebut merupakan species pollypterus atau yang dikenal oleh pecinta ikan internasional sebagai rope fish. Sebagian besar juga menyebutnya sebagai ikan palmas. Ikan ini berasal dari daratan afrika. Para ahli menyatakan bahwa palmas termasuk ikan purba karena ikan ini sangat primitif. Struktur tubuhnya yang mirip dengan ular diyakini merupakan sisa peninggalan era

Palmas termasuk ikan pemangsa (predator), carnivora. Ikan ini mampu untuk mengambil udara dengan secara langsung ke permukaan air dengan alat yang telah termodifikasi sedemikan rupa menyerupai paru-paru. Selain itu, ia mampu merayap di atas tanah menggunakan sirip dadanya yang kuat. Oleh karena itu sisi atas akuarium harus tertutup agar tidak loncat ke luar.

Panjang rata-rata ikan Palmas adalah 30 cm. Hidup pada kisaran pH 6.5-7 dan temperatur 16-27 ° C. Sebagai carnivora, pakan utama Palmas adalah pakan hidup berupa ikan kecil, atau daging-dagingan lain seperti daging udang atau daging ikan. Palmas peliharaanku sangat menyukai cacing sutra baik yang kering ataupun yang masih hidup. Yang unik dari palmas adalah ikan yang sangat rakus dan doyan makan. Segelas cacing sutera ukuran 300cc dihabiskan hanya dalam waktu 5 hari. Maka tak heran palmas kecilku kini sudah menjadi sangat gemuk dan besar.

Selain rakus ikan ini juga ganas terhadap ikan lain. Ikan-ikan kecil yang awalnya saya tempatkan di akuarium pun habis dimangsa. Bahkan ikan ini “berani tangan”. Jangan sekali-kali memasukkan tangan ketika palmas sedang lapar. Pasti tangan anda disambar karena disangka makanan. Tapi jika dengan tanganku ikan ini menjadi jinak dan hanya menggigit-gigit maja. Aku sangat menyayang lima palmas koleksiku yang masuk jenis senegalus, senegalus albino, dan retropinnis. Mungkin teman-teman tertarik untuk memelihara ikan eksotik ini dalam akuarium.

Inkonsistensi Amerika


Oleh Wongbanyumas

Negara Amerika saat ini memang berada di puncak kekuasaan. Setiap negara di dunia takut dan gentar ketika mendengar sepak terjang negara ini. Termasuk Indonesia yang selama ini selalu menjadi anak manis di hadapan komkprador paman sam. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi beberapa negara yang saat ini mencuat ke permukaan. Tengoklah keberanian Ahmadinejad melawan hegemoni AS dan sekutunya, terutama israel. Tak luput pula dari pandangan kita bagaimana Hugo chavez, Evo morales, dan Videl castro yang membentuk poros Amerika Latin. Juga keberanian Korea utara menghadapi tekanan dan resolusi dari dewan keamanan PBB.

Amerika sebagai jawara saat ini berusaha untuk mempertahankan posisinya di puncak. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan penyebaran ideologi yang mereka anut. Ideologi yang ditularkan oleh orang Amerika bukanlah agama tertentu, melainkan sebuah trend dan gaya hidup. Poin penting dari ajaran hidup manusia Amerika adalah kebebasan (freedom), Hak Asasi Manusia (human rights), dan pluralisme (pluralism) semua itu terangkum dalam sebuah ideologi besar yaitu DEMOKRASI. Semuanya dihidangkan dengan sangat mewah dalam piring demokrasi.

Sebagai sebuah gagasan awal demokrasi memang sat ini dipandang sebagai bentuk terbaik. Nilai-nilai kemanusiaan terangkum secara komperhensif di dalam demokrasi. Penyebaran ideologi demokrasi dilakukan dengan dua cara yakni persuasif dan represif atau yang lebih populer dengan metoda stick and carrot. Negara yang manut akan diberi carrot, sedangkan negara yang mbandel akan diberi ayunan stick bahkan dentuman bazzoka. Dana yang dikelurkan dalam usaha penyebaran ideologi ini tidaklah sedikit. Coba anda lihat bagaimana besarnya dana yang mereka kucurkan kepada IMF dan Bank dunia. Juga terhadap NGO (non government organization) atau yang lebih sering disebut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Amerika berusaha untuk meyakinkan publik dunia bahwa ideologi yang mereka usung adalah ideologi penyelamat dunia. Amerika sebagai juru selamat dan ratu adil bagi warga dunia. Berbagai caa dilakukan agar negara yang ada di dunia menganut agama demokrasi. Mulai dengan cara yang halus seperti hibah atau bantuan, bahkan dengan cara paling sarkastik yaitu invasi sebagaimana yang dilakukan terhadap Iraq dan Afghanistan.

Namun kita dapat melihat bahwa AS tidak konsiten serta memiliki standar ganda dalam penghayatan demokrasinya. Nilai pertama yaitu kebebasan, dalam prakteknya AS membatasi hak-hak warga negara. Terutama kaum minoritas yakni warga kulit hitam miskin dan ummat islam di AS. Ummat islam terutama tidak mendapatkan kebebasan dalam menjalankan agamanya karena adanya politik diskriminasi terhadap ummat islam. Padahal kita semua memahami bahwa AS adalah negara pemuja kebebasan. Namun justru membatasi kebebasan warganya untuk memeluk islam.

Nilai kedua yakni HAM, selama ini selalu gencar mengkampanyekan penegakan HAM di seluruh dunia. Bahwa setiap orang memiliki hak dasar dalam hidupnya yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun termasuk negara. Hal yang terjadi justru bertolak belakang, amerika sebagai negara humanis ternyata tidak semanis julukannya. Lihatlah betapa banyak anak muda, kaum jompo, serta wanita yang menjadi korban kebiadaban tentara Amerika. Padahal pada prinsipnya dalam hukum humaniter non kombatan tidak boleh diserang. Hal ini sangat lucu bagi penulis. Di satu sisi AS berupaya menularkan ideologi demokrasinya namun justru mereka melakukan pengingkaran sendiri terhadap apa yang mereka bawa.

Nilai ketiga yaitu pluralisme, sebagai sebuah negara yang besar AS merupakan negara yang sangat pluralistik. Di dalamnya terdapat berbagai orang dari negara yang berbeda. Sifat heterogen itu sendiri kadang tidak diimbangi dengan sikap pluralistik. Mampu menerima berbedaan dengan lapang dada adalah ciri seorang gentleman. Beda dengan AS yang tidak mampu meneriam perbedaan. Lihatlah perlakuan mereka terhadap barrack obama. Hanya karena obama mempunyai nama tengah hussein maka dirinya dicitrakan seolah-olah buruk. Padahal tuduhan miring tersebut belum tentu terbukti.

Saya tidak akan memaparkan bukti lain betapa amerika sangat tidak konsisten dengan paham demokrasinya. Karena sangat banyak sekali contoh inkonsistensi amerika. Oleh karena itu seharusnya kita sadari bahwa kita harus memalingkan wajah kita dari sistem busuk ini.

Perjalanan ku kembali ke jakarta



oleh wongbanyumas

Hari itu Jum'at 26 september 2008 bertepatan dengan 26 Ramadhan 1429 Hijriyah. Kerinduanku untuk berjumpa dan berkumpul bersama orang tua dan saudara-saudaraku di Jakarta sudah tidak tertahankan. Ingin sekali rasanya aku pulang dan memeluk mereka dengan kehangatan cinta. Cukup lama saya tidak kembali ke Jakarta, tepatnya sudah delapan bulan berlalu. Kesibukanku di kampus selama ini menjadi penghalang bagiku untuk pulang. Tapi ahirnya hari ini aku aka pulang. Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan aku kesempatan umur panjang sehingga aku masih bisa silaturahim.

Sebelum hari-hari di ujung ramadhan kota Purwokerto sudah mulai sepi. Maklum karena nyawa dari aktivitas kota kecil itu adalah mahasiswa perantau. Begitu menjelang lebaran kota ini mulai sepi ditinggalkan penghuninya untuk kembali ke tanah asal mereka. Kamar-kamar di tempat kost ku satu persatu mulai ditingal penghuninya. Tinggalah aku bersama seorang kawan berdua yang masih bertahan dengan aktivitas masing-masing. Sedangkan kawan yang lain telah kembali ke pangkuan sang bunda.

Sedih rasanya ketika sore itu aku akan meninggalkan kota purwokerto. Kota yang telah memberikan aku kehidupan dan pengharapan. Kota yang telah memberikanku cinta dan kebahagiaan. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju mobil bapak kost yang kebetulan akan menuju Jakarta untuk menjemput anknya. Sebelum pulang tak lupa kami mampir ke Sokaraja untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta.

Setelah itu kami langsung meluncur menembus hutan belantara demi menuju sebuah pengharapan akan perjumaap dengan sanak saudara. Kami menghabiskan perjalanan kami dengan obrolan ringan yang diselingi canda tawa. Malam pun mulai tiba dan aku tak tahan dengan kantuk yang mulai menyerangku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh hentakan besar yang menghempaskan tubuh besarku ini. Ternyata mobil yang kami kendarai hampir mengalami kecelakaan karena oleng dan berputar akibat kehiangan kontrol. Mobil sempat masuk ke lajur berlawanan namun untung hari itu arus mudik belum terlalu ramai.

Astagfirullah...
kata itu terus terlantun dalam batinku. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan untuk pulang. Perjalanan kami lanjutkan, membosankan dan sunyi. Untuk mengusir jenuh aku pun mulai memainkan tuts handphoneku. SMS demi SMS terhantarkan kepada orang tercinta. Cukup untuk mengusir kantukku yang mulai merayap seiring malam yang mulai menyeruak. Jalan yang kami lalui lancar dan sangat lengang. Namun berbeda ketika melihat jalur berseberangan yang padat dengan pemudik.

Luar biasa...
Antrean pemudik yang sangat panjang terlihat sejak kami memasuki jalur Pantura. Mulai dari brebes sampai ke cirebon antrean mobil termapar di jalan. Tak terasa kami sudah memasuki tol cikampek. Perjalanan kami terasa singkat karena jalan yang kami lalui sangat sepi. Mobil yang kutumpangi melacu dengan cepat menuju tempat tujuan. Sepanjang jalan menuju jakarta aku melihat bayangan dari kepulan asap kendaraan yang membumbung ke langit. Bintang tidak terlihat malam itu karena asap menutupi langit malam itu. Polusi yang luar biasa telahmeracuni asap jakarta.

Tepat pukul 1 malam aku turun di jalan tol bekasi barat. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan kendaraan ajaib, ojek. Ahirnya setelah beberapa lama aku sampai ke rumah. Kupeluk ibuku tersayang yang sejak malam menanti kedatangan ku. Subhanallah kerinduanku terbayar dengan orang-orang yang ku cintai. Akhirnya aku berkumpul kembali bersama keluargaku tercinta. Delapan bulan lamanya aku meninggalkan mereka di Purwokerto. Selama itu pulalah kerinduanku terbendung oleh jarak dan waktu yang selalu memisahkan kami. Terima kasih ya Allah.

Pemain sinetron impor mendominasi pertelevisian kita


oleh wongbanyumas

Pernahkan kita sadar bahwa tontonan sebagian besar masyarakat kita adalah tayangan yang tidak mendidik. Sadarkah bahwa sinetron telah menjadi candu dan racun bagi masyarakat. Mungkin jika anda belum menyadarinya untuk saat ini nantinya akan menyadari bahwa ada bahaya yang mengintai kita. Kenal cinta laura, mike lewis, ataupun dimas beck? Nama-nama itu menghiasi layar kaca kita dengan setiap hari.

Memang jika dilihat sepintas seolah pertelevisian kita mengalami kebangkitan dengan banyaknya bintang muda yang lahir dan naik daun. Tapi bila kita cermati apakah aktor yang sat ini bermunculan memang benar-benar memiliki kualitas seorang bintang. Atau mungkin mereka hanyalah anak orang berduit yang bisa menggoyahkan sang sutradara dengan tampang indo-nya. Karena budaya yang terbangun dalam masyarakat kita adalah budaya materialistik. Melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang materi dan kebendaan semata. Tidak pernah melihat kepada esensi yang terkandung di dalamnya.

Begitupun sinetron Indonesia yang saat ini hanya dipenuhi oleh anak mama saja. Mohon maaf jika saya mengkritik sinetron kita. Sebab saya tidak melihat adanya kualitas yang dimiliki oleh sang “bintang”. Kualitas akting mereka di layar kaca pun sangat buruk. Mereka hanya mengandalkan tampang mereka yang boleh dibilang “lumayan” untuk orang Indonesia. Itupun jika dilihat dari kaca mata sebagian besar orang kita yang memuja budaya barat. Saya agak miris ketika banyak orang yang menganggap bahwa orang barat/bule lebih baik dari orang pribumi. Mental inlander yang telah dikenalkan penjajah belanda telah mendarah-daging dalam jiwa sebagian besar masyarakat.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan bangga terhadap negerinya. Berbanding terbalik dengan indonesia yang sangat baratsentris. Sinetron kita pun mengalami sindrom barat akut. Dengan kemampuan akting yang sangat pas-pasan bintang sinetron kita (yang sebagian besar adalah peranakan/blasteran/indo) ternyata dapat membius pemirsa. Mereka mengelu-elukan sang idola yang memiliki kualitas buruk sebagai aktor. Jual tampang, mungkin itulah kata yang ingin penulis sampaikan. Mungkin ini sekaligus menjadi kritik terhadap insan film. Bagaimana mungkin film kita mampu menjuarai festival akbar seperti di cannes ataupun tokyo film fest jika kualitas aktor kita buruk dan cuma jual tampang.

Namun bukan berarti semua bintang sinetron muda yang saat ini sedang mencuat hanya jual tampang. Saya tidak berusaha untuk mengeneralisir hal tersebut. Masih banyak bintang muda lokal yang berbakat akting. Namun yang disayangkan adalah para produser lebih melihat artis indo yang lebih digemari dan menjual. Sehingga hal tersebut dapat menaikkan rating sinetron mereka yang ujungnya hanya berusaha mereguk keuntungan saja. Bakat terpendam kaum pribumi tertutup hanya kepentingan bisnis sesaat.

Pernahkah terpikir suatu saat nanti film indonesia dapat memenangkan penghargaan di berbagai festival film internasional? Semoga saja hal itu akan terjadi...